RSS Feed

Tantangan Menulis #1 Vuisi

#1 Sarimi

Sarimi kau terbuat dari apa?

Sarimi mengapa kau terpana?

Sarimi sudahkah kau bertemu saritem dan sarkem?

Sarimi sebelum dan sesudahmu ada sesuatu yang tersimpan dalam kehidupan kita

Rasa hangat yang terasa akrab dalam gaya hidup kelas menengah

Sarimi kau adalah teman, penghibur dikala rindu

Sarimi mungkin aku kejam, namun mengertilah

bahwa pengorbanan yang tulus akan berbuah kebaikan

Mulai saat ini kita akan bersatu dalam keabadian, dan hanya akan terpisahkan oleh takdir

Kau menjadi bagian dalam darah dan dagingku, aku pun menjadi bagian dalam kenangan indah kita berdua

Kenangan dikala dinginnya hujan itu kita saling menghangatkan.

Aku menghangatkanmu, kemudian kau menghangatkanku. Kemudian kita saling mendoakan.

Allahuma bariklana..

Selamat hari kabisat

Halo semua, hari ini adalah hari yang spesial. Tau kenapa? Hari ini tanggal 29 februari 2016 adalah hari kabisat yang istimewa, hal yang istimewa dari hari ini adalah tidak akan ada lagi terulang hari seperti ini sampai kapanpun. Tidak akan ada lagi 29 februari 2016 yang lain. Jadi, di hari yang istimewa ini jalanilah hidupmu semaksimal mungkin, mencintailah dengan sepenuh hati dan belajarlah memaafkan. Sekian dan terima gaji.

kamu cantik, meski tanpa bedak..

“kamuu cantiik, meski tanpa bedak..

~tulus-satu hari di bulan juni~

 

Sederhana itu indah, seindah senyuman penuh rasa syukur di pagi hari. Walau belum gosok gigi, tetap sangat indah.
Sederhana itu indah, seindah menghabiskan teh hangat sore hari. Dan perut terasa kenyang. walau tidak makan roti.
Kadang kita berpikir, lebih sering tidak.

Sederhana itu indah, seindah melihat awan, tanpa harus memilikinya. Seindah melihat gunung, walau tak kuat mendaki.
Sederhana itu indah, seindah telur ceplok buatan mama. Dan perut terasa kenyang, walau tidak makan roti.
Sederhana itu seindah aliran sungai tanpa limbah, kata-kata tanpa politik, dan seindah kamu.
Cukuplah kamu senyum, karena kamu tak pandai bercemberut.
seindah pikiran tanpa prasangka, karena prasangka membuat perut terasa buncit.

kadang kita berpikir, lebih sering tidak.
kadang kamu tersenyum, lebih sering cemberut.

mungkin bibirmu kurang bersyukur. Padahal indah.
kadang kamu peluk aku, lebih sering peluk dinding,
Padahal keras.


Selamat lebaran Idul Fitri dan Dirgahayu Ondonesia..

Baiklah, pertama dan yang paling utama. Saya beserta keluarga mengucapkan maaf lahir batin kepada seluruh makhluk hidup terutama penikmat tumisjamur diseluruh belahan dunia baik yang masih hidup ataupun yang telah berada di alam yang berbeda atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang gak sengaja termasuk keterlambatan posting lebaran yang udah lewat beberapa hari ini karena undangan makan opor ayam dimana-mana yang tidak terbendung lagi sehingga saya kekenyangan dan lupa posting. Namun demikian harusnya saling memaafkan dapat dilakukan kapan sahaja bukan??

Kebetulan pada tahun ini lebaran ied fitri dan peringatan kemerdekaan negara Ondonesia jatuh pada tanggal yang berdekatan. Agustus tahun ini luar biasa.. hak hak hak..

Setelah bermaaf-maafan mari kita balik santai lagi sekalian kulas tema tulisan kali ini. 17 Agustusan. Libur nasional kali ini jatuh pada hari sabtu yang artinya gak ada libur kerja tambahan. Cihh. Malesnya gw ini sudah menjadi budaya di ondonesia lho dan yang namanya budaya harus kita jaga dan kita lestarikan. Betul tidak tuan gendut??

Dan ngomong-ngomong soal 17 Agustusan, seperti pada kebanyakan orang ondonesia pada umumnya nasionalismenya meningkat sejuta persen dan bakal lupa lagi setelah bangun tidur besoknya. Hari ini seluruh penjuru ondonesia merayakan hari besarnya, tuan gendut menyampaikan kata sambutan untuk yang kesekian kalinya, festival dan lomba-lomba berlangsung di kampung-kampung. Meriah. Walaupun kayaknya tahun ini gak seramai tahun tahun yang lalu.

Gw bangga sama negara ini, ondonesia adalah negara yang kuat. Buktinya, dengan tingkat pengelolaan negara yang parah gitu dan mental manusianya yang masih primitif negara ini belum juga hancur. Artinya masih ada yang peduli dengan nasib bangsa ini, Tuhan paling tidak, karena Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang.

Sebagai hadiah gw persembahkan tulisan “Surat untuk Tuan” di postingan gw sebelumnya dan puisi gw berikut ini untuk ondonesia tercinta.

Dirgahaha Ondonesa

Merah putih yang goncang dihempas nafas rakus tikus tikus
Yang lemas digagahi para penggagah negeri
Bangkitlah diantara puing mayat kami
Dari darah dan keringat kami yang mengering

Merah yang berani melindungi putih yang suci
Tegaklah kepalamu dengan anggun
Dengan membawa budaya malu
Dengan kemaluan yang tegak dengan anggun

Wahai negeri yang hakiki
Yang tanahnya tumbuh ubi dan lautnya bahari
Kuatlah dengan doa kami dengan tenaga kami dengan pikiran kami
Biar Tuhan bersama sila kesatu kami

Biar katanya kemanusiaan tak lagi adil dan beradab
Biar mereka ingin ondonesia tak lagi bersatu
Biar kerakyatan yang panjang lanjutannya itu tak kami mengerti
Namun cinta kami tulus dari dasar hati

Dari kami yang mencintaimu,ondonesiaku ♥♥♥

Pekanbaru, 17 Agustus 2013

Surat untuk tuan.

Pekanbaru, 1 Agustus 2013

Dengan hormat dan penuh cinta kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat ondonesia dan untuk tuan yang ganteng dan untuk nyonya yang gemuk.

O tuan, bagaimana pemandangan diatas sana??

O tuan, kami hanya ingin menyapamu, bukan ingin merusak tidurmu. Bukan ingin merusak negara yang kau pelihara dengan susah payah. Yang kau bangun dengan cinta dan kasihmu yang mungkin takkan pernah kami yang rakyat kecil lagi bodoh ini mengerti.

O kapiten, kami hanya ingin memberitahu kapal ini mau karam, sebentar lagi akan tenggelam.

Kala pagi mentari lahir dari timur, anak kami lahir dari kantong plastik di pinggir jalan. Matahari terbenam ke barat, kami belum juga pulang dari menggilas sampah. Angin busuk menghampiri ketiak dan selangkangan kami tuan. Juga puting susu istri istri kami yang telah habis airnya meski kami menghisapnya dengan perlahan.

O tuan apa yang kita menangkan dari pertempuran yang kita lakukan dulu? Aku bermimpi telah disiarkan kemenangan kita ke seluruh penjuru negri. Kami senang tuan bawa ketempat yang sekarang. Kami hanya belum tahu apa yang kita menangkan kemarin. Beri tahu kami tuan..

Andai kami bisa membalas kebaikanmu tuan, sudah dari dulu kami lakukan. Mungkin beberapa dari kami begitu bersemangat ingin membalas kebaikan tuan, mungkin sebagian yang lain hanya bisa berdoa namun Tuhan pasti membalasnya berlipat lipat tuan.

O tuan maafkan kami menjamu engkau dengan makanan dari tanah yang telah kami injak-injak. Yang asinnya berasal dari tetesan keringat kami yang bercucuran. Yang gurihnya berasal dari ingus anak kami yang bodoh.

Tuan yang ganteng, apa kabar nyonya yang gemuk?? Maukah engkau bernyanyi untuk kami? Agar nyenyak tidur anak-anak kami, agar lupa sejenak pikiran kami atas beban hidup yang kami pikul sejak lahir. Kami hanya punya recehan untuk membayar tuan bernyanyi namun itu uang halal tuan. Seratus persen. Seratus rupiah.

Tidak tuan, saya tidak bohong. Tuan ganteng kok, demi u-ude45, demi pancasial, demi pepeka-en, demi sejarah, demi lumpur yang keluar dari desa porong, demi uang naik haji ibu-bapak kami, demi gunung dan hutan kami, demi daging sapi, demi proyek-proyek, demi pelacur, demi istri tuan yang gemuk, demi simpanan tuan, demi tikus-tikus di rumah tuan dan di gubuk kami, demi partai tuan, demi media yang gemar menghisap pembalut wanita di tempat sampah, dan demi jiwo jancuk.

Maafkan tuan, gigi kami rapat, tangan kami mengepal dan pantat kami panas. Gigi kami telah lama tak mengunyah makanan yang layak, tangan kami harus menjaga milik kami yang tersisa dan.. ah sudahlah, kami telah lelah diperkosa hak haknya. Mohon tuan yang ganteng dapat maklum.

O tuan sesungguhnya hari ini angin sangat kencang, sudikah tuan meminjamkan selimut untuk anak kami yang kedinginan. Agar ada harapan mereka untuk hidup hangat esok hari. Agar kuat mereka berjuang menaklukkan hidup yang pahit. Agar mereka rasa apa itu cinta.

Akhirnya tuan, kami disini selalu mendoakan tuan selalu berada dalam keadaan sehat jiwa dan raga, hati dan nurani. Terima kasih telah membaca surat kami yang tak seberapa ini, kalau ada kesalahan penulisan maupun isi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sebenarnya kami bodoh lagi buta huruf.

Tak lupa pula di bulan yang penuh berkah ini ucapkan selamat lebaran buat tuan yang merayakan lebaran. Selamat puasa buat kami yang merayakan puasa. Semoga suatu saat nanti kita berbuka..

Ting gegenting..

Pagi semuah.. kali ini gw mau share aja cerita yang gw pernah baca waktu kecil di buku pelajaran sd. Cerita ini menurut gw spesial karena punya kesan yang mendalam di pikiran gw karena setelah sekian lama gw gak bisa lupain ini cerita horor. Ini cerita rakyat yang judulnya ting gegenting. Langsung aja deh gw copas dr gugel nih cerita. Enjoy..
—————————————————–

Dahulu ada seorang anak yatim tinggal dengan ibunya. Mereka hidup sebagai petani. Tinggal di suatu dusun di tepi hutan. Sunyi dan sepi.

Pada suatu hari sang anak kelaparan. Ia berkata kepada ibunya, ”Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan mau makan.”

Ibunya menjawab, “Tunggulah, anakku, sebentar, ibu mau menebas ladang dulu.

Setelah ibunya selesai menebas ladang, si anak bangun dari tidurnya dan merengek kembali, ”Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan, mau makan!”

Sekali lagi ibunya menjawab, “Tunggu, Nak, ibu mau membakar ladang dulu.”

Karena lemah, sang anak tidur lagi. Setelah ibunya selesai membakar ranting-ranting dan daun-daunan di atas ladang, si anak pun terjaga karena lapar perutnya.“Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan, mau makan,” tangisnya.

Ibunya menjawab, ”Tunggu Nak, ibu mau menanam padi dulu.”

Si anak pun tertidur lagi. Setelah ibunya selesai menanam padi, si anak pun terbangun lalu menangis minta makan.“Ting, gegenting, perutku sudah kelaparan, mau makan!”

lagi-lagi ibunya menjawab, ”Tunggu nak, ibu masih mau merumput dulu.”

Mendengar ini si anak tertidur kembali. Tidak lama kemudian si anak bangun dan menangis.“Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!”

“Tunggu sebentar nak, padi sudah berbuah.” Si anak pun kembali tidur.“Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!”

Jawab ibunya, ”Tunggu nak, padi kita sudah menguning ujungnya.”

Si anak pun tertidur kembali. Setelah tidur cukup lama si anak terbangun lagi dan merengek.“Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!”

Lagi-lagi si ibu menjawab, ”Tunggu nak, padi kita sudah masak, ibu mau memotong padi dulu.”

Mendengar janji ini si anak segera tertidur. Tiba-tiba si anak bangun kembali dan menangis.“Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!”

“Tunggu nak, ibu masih mau mengirik (melepaskan butir-butir padi dari tangkainya) padi dulu.”

Anak pun tertidur kembali. Lewat beberapa waktu si anak pun bangun.“Ting, gegenting, perutku sudah lapar, mau makan!”

“Tunggu sebentar nak, ibu mau menampi gabah dulu.”

Si anak tidur dengan hati gelisah. Perutnya yang lapar tak lama pun membangunkannya. Ia merasa lapar lagi. Ia menangis lagi.“Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan, mau makan!”

Ibunya menjawab, ”Tunggu nak, ibu mau menjemur gabah dulu.”

Oleh karena kecewanya, si anak pun tertidur lagi. Ia bangun dan menangis lagi.“Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!”

ibunya menjawab, ”Tunggu nak, ibu mau menumbuk gabah dulu.”

Selesai menumbuk gabah, terdengar lagi suara anaknya merintih sedih, ”Ting, gegenting perutku sudah genting, kelaparan, mau makan!”

Jawab ibunya, ”Tunggu nak, ibu mau menampi beras dulu.”

Si anak pun tertidur kembali. Tak lama kemudian si anak bangun kembali. Menangislah ia.“Ting, gegenting, perutku sudah kelaparan, mau makan!”

Ibunya menjawab segera, ”Sabar nak, ibu mau mencuci beras dulu.”

Setelah ibunya selesai mencuci beras, anaknya sudah terjaga sambil menangis, ”Ting, gegenting perutku sudah kelaparan, mau makan!”

“Sabar nak, ibu masih mau menanak nasi dulu,” jawab ibunya.

Si anak yang sudah lemah badannya segera tidur. Tapi tak lama ia bangun lagi, ia terus merengek dan menangis… suaranya terengah-engah.“Ting ge..genting …pe ..rutku … suuuu…..dah genting, ke…..laparan, mau maaa….kaaann.”

Akhirnya ibunya menjawab, ”Sebentar lagi nak, ibu mau menempatkan nasi di piring dulu.”

Akan tetapi, ketika si anak bangun mau makan, tiba-tiba ting gegenting putuslah perutnya yang sudah genting karena sudah kelaparan, sehingga tidak dapat lagi melanjutkan hidupnya di dunia ini.

Sang ibu dengan hati sedih mendekati anaknya. Ia menangis sedih.

Pulang..

Hei kurus, masuk rumah kau cepat sudah kencang kali angin di luar itu.

Jangan pulak tegak tegak kau dipinggir jalan, dipanjati orang pln itu kau nanti.
Gara gara kau pulak nanti sering mati lampu kami.

Hei kurus, sudah aku bilang pulang kau. Banyak pulak anjing di kampung kita ini dimakan kau nanti dipikirnya pulak kau tulang aku.

Yang kasiannya kau kuliat kurus, nah makan dulu saksang ini samamu nah. Biar agak berisi kau sikit. Makan lah kau yang banyak ya..

Hei kurus, udah gemuk kau sekarang ya udah ganteng kau ya.

Udah lain pulak cara ngomongmu sekarang ya udah lu gua lu gua. Bahasa apa kau bilang tadi? Bahasa gaol?

Udah sukses kau sekarang ya, kau tengok lah adek adekmu itu si butet si ucok si wati si herbet si mekel jekson si jon lenon. Kau bantu bantu lah sikit uang sekolahnya biar jadi insinyur orang itu kayak kau. Belom lagi adekmu yg nomer dua itu udah mau kawin dia kurang pulak uangnya seratus juta.

Hei kurus kok tak pernah lagi kau hubungi aku, betulnya itu kau bilang hilang hpmu?

Pulang lah lagi kau kurus udah sakit bapakmu ini, udah kurus jugak dia sama kayak kau. Pulanglah amang.

Pulang lah kau nak udah mati bapakmu udah mati mamakmu udah besar adek adekmu si butet si ucok si wati si herbet si mekel jekson si jon lenon. Udah mati pulak anjing anjing yang kejar kau dulu.

Yang udah jauhannya kau dibawa angin? Yang masih hidupnya kau kurus??

Hei kurus pulang lah kau lagi..